SAP Datasphere dan Revolusi “Zero-Copy”: Apakah Data Replication Sudah Mati?

Data Replication from SAP

Saya yakin Anda familiar dengan kesibukan ini: Kita berlomba-lomba membangun Data Warehouse raksasa atau Data Lake seluas samudra. Tujuannya mulia, yaitu menyedot data dari berbagai sistem transaksional dan mengumpulkannya di satu tempat agar mudah dianalisis. Namun, bukankah realitas di lapangan sering kali tak seindah teori? Semakin besar volume data yang kita miliki, rasanya pergerakannya justru semakin lambat.

Di sinilah kita bertemu dengan musuh klasik: Latensi.

Proses Data Replication from SAP secara tradisional mulai dari ekstraksi (ETL), pembersihan, hingga pemuatan ulang sering kali memakan waktu yang tidak sebentar. Belum lagi biaya penyimpanan (storage) yang membengkak dan computing power masif yang harus disiapkan. Seringkali, saat laporan bisnis mendarat di meja eksekutif, datanya sudah obsolete (usang).

Nah, konsep “Streaming” inilah yang ditawarkan oleh SAP Datasphere lewat janji manisnya: Business Data Fabric dan pendekatan “Zero-Copy”.

Narasinya terdengar sangat seksi dan kuat: “Kita tidak perlu lagi memindahkan data!” Namun, sebagai orang teknis dan strategis, alarm skeptis kita pasti berbunyi. Apakah benar demikian? Apakah replikasi data benar-benar sudah mati dan harus kita tinggalkan sepenuhnya?

Mari kita bedah topik ini lebih dalam. Kita akan menyingkirkan sejenak kacamata marketing dan melihatnya murni dari perspektif teknis serta strategi bisnis B2B yang realistis.

Era Lama: Mengapa Kita Melakukan Replikasi Data?

Sebelum kita membahas kematiannya, kita harus memahami mengapa “sang pasien” (replikasi data) ini hidup begitu lama. Selama bertahun-tahun, menyalin data dari sistem ERP SAP (seperti ECC atau S/4HANA) ke sistem analitik pihak ketiga atau Data Warehouse adalah standar industri.

Ada tiga alasan utama mengapa metode konvensional ini bertahan:

  1. Kinerja Sistem Operasional: Menjalankan query analitik yang berat langsung pada sistem transaksional (OLTP) sama saja dengan “bunuh diri”. Hal ini bisa mematikan kinerja ERP harian yang digunakan operasional perusahaan. Oleh karena itu, data disalin keluar agar analisis tidak mengganggu operasional.
  2. Transformasi Data yang Kompleks: Data mentah dari SAP seringkali sangat teknis (pikirkan tabel seperti BKPF atau BSEG). Data ini perlu diubah, digabungkan, dan disederhanakan agar bisa dipahami oleh pengguna bisnis. Proses transformasi ini biasanya dilakukan di tengah jalan (staging area) atau di tujuan akhir.
  3. Sejarah dan Arsip: Sistem ERP dirancang untuk transaksi saat ini. Untuk analisis tren 10 tahun ke belakang, perusahaan membutuhkan repositori terpisah yang menyimpan data historis tanpa membebani database utama.

Namun, model ini menciptakan masalah baru yang disebut Data Gravity. Semakin banyak data yang Anda salin, semakin sulit untuk memindahkannya lagi. Organisasi akhirnya terjebak dalam labirin pipa data yang rumit dan rentan rusak setiap kali ada pembaruan sistem.

Masuknya SAP Datasphere: Janji “Zero-Copy”

SAP menyadari bahwa memindahkan data secara fisik di era cloud dan big data menjadi semakin tidak efisien. Inilah mengapa SAP Datasphere diperkenalkan sebagai evolusi dari SAP Data Warehouse Cloud. Fitur utamanya? Kemampuan untuk melakukan federasi data (Data Federation).

Konsep “Zero-Copy” atau virtualisasi data ini memungkinkan Anda untuk mengakses data langsung dari sumbernya (misalnya S/4HANA) tanpa harus memindahkannya secara fisik ke tempat lain.

Bayangkan ini seperti layanan streaming film. Dulu, jika Anda ingin menonton film, Anda harus membeli DVD-nya dan membawanya pulang (Replikasi). Sekarang, Anda cukup menekan tombol “Play” di Netflix, dan data film itu mengalir ke layar Anda tanpa tersimpan permanen di perangkat Anda (Federasi/Zero-Copy).

Keuntungan Pendekatan Zero-Copy

  1. Real-Time Insight: Karena tidak ada jeda waktu untuk proses ETL (Extract, Transform, Load), data yang Anda lihat di dasbor analitik adalah data yang sama persis dengan yang ada di sistem sumber saat ini.
  2. Efisiensi Biaya Penyimpanan: Anda tidak perlu membayar biaya storage ganda untuk data yang sama di dua tempat berbeda.
  3. Governance yang Lebih Baik: Dengan tidak menyebarkan salinan data ke mana-mana, risiko keamanan dan ketidakkonsistenan data (data redundancy) dapat diminimalisir. Konsep Single Source of Truth benar-benar terjaga.

Apakah Replikasi Data Benar-Benar Mati?

Inilah inti perdebatannya. Dengan segala kecanggihan federasi data, apakah kita harus mengucapkan selamat tinggal pada replikasi? Jawabannya: Belum, dan mungkin tidak akan pernah sepenuhnya.

Menyatakan bahwa replikasi data sudah mati adalah pernyataan yang terlalu menyederhanakan masalah. Meskipun SAP Datasphere sangat powerful dalam melakukan federasi, ada skenario teknis dan bisnis di mana replikasi data tetap menjadi pilihan terbaik, atau bahkan satu-satunya pilihan.

1. Keterbatasan Kinerja pada Volume Masif

Federasi data bekerja sangat baik untuk query yang terarah. Namun, jika Anda mencoba melakukan join antara tabel berukuran 50 juta baris di sistem A dengan tabel 20 juta baris di sistem B melalui jaringan (virtual), hukum fisika tetap berlaku. Latensi jaringan dan beban pada sistem sumber bisa menjadi penghambat.

Dalam kasus analisis big data yang sangat masif, memindahkan data ke lapisan caching atau mereplikasinya ke data store berkinerja tinggi (seperti SAP HANA Cloud di dalam Datasphere) seringkali lebih cepat untuk diakses berulang kali.

2. Snapshots dan Audit Trail

Terkadang, bisnis perlu membekukan data pada titik waktu tertentu (misalnya, closing akhir bulan). Jika Anda hanya mengandalkan “Zero-Copy” yang selalu real-time, angka di laporan Anda bisa berubah besok pagi karena ada penyesuaian di sistem sumber. Replikasi memungkinkan Anda mengambil “foto” data pada waktu tertentu untuk keperluan audit dan kepatuhan.

3. Integrasi Sistem Non-SAP Legacy

Tidak semua sistem lawas (legacy) mendukung kemampuan federasi yang modern. Menghubungkan SAP Datasphere dengan sistem on-premise non-SAP yang tua mungkin masih memerlukan metode ekstraksi data tradisional agar bisa bekerja dengan stabil.

Strategi Hybrid: Jalan Tengah yang Bijaksana

Alih-alih memilih salah satu secara ekstrem, arsitek data modern yang cerdas akan memilih pendekatan Hybrid. SAP Datasphere sendiri sebenarnya dirancang untuk mendukung hal ini. Ia tidak memaksakan “Zero-Copy” murni, melainkan memberikan fleksibilitas.

Ibarat seorang konduktor orkestra yang mengatur tempo musik, Anda harus tahu kapan harus membiarkan data mengalir langsung (federasi) dan kapan harus menyimpannya sejenak (replikasi) agar harmoni bisnis tetap terjaga.

Berikut adalah panduan praktis untuk menentukan strategi Anda:

  • Gunakan Federasi (Zero-Copy) Saat:

    • Anda membutuhkan data real-time untuk pengambilan keputusan cepat.
    • Volume data yang ditarik moderat atau bersifat spesifik (ad-hoc).
    • Sistem sumber memiliki performa komputasi yang cukup kuat.
    • Regulasi melarang data keluar dari yurisdiksi tertentu (Data Residency).
  • Gunakan Replikasi (Persisten) Saat:

    • Anda perlu melakukan analisis historis jangka panjang dengan model data yang kompleks.
    • Melakukan machine learning atau training AI yang membutuhkan pembacaan data berulang-ulang secara intensif.
    • Sistem sumber adalah sistem tua yang rapuh jika dibebani query eksternal.
    • Anda perlu menggabungkan data dari puluhan sumber yang berbeda dengan transformasi yang sangat berat.

Masa Depan: Business Data Fabric

Tren industri saat ini, seperti yang sering dikutip oleh Gartner, mengarah pada Data Fabric atau Data Mesh. SAP Datasphere memposisikan dirinya di sini. Tujuannya bukan lagi tentang “di mana data disimpan”, melainkan “bagaimana data diakses”.

Dengan fitur seperti Replication Flow di dalam SAP Datasphere, SAP sebenarnya mengakui bahwa replikasi masih merupakan warga kelas satu dalam ekosistem data. Namun, prosesnya kini jauh lebih cerdas. Anda tidak lagi memerlukan alat ETL pihak ketiga yang rumit; orkestrasi pergerakan data itu sudah tertanam (built-in) dalam platform.

Replikasi tidak mati, ia hanya berevolusi. Ia tidak lagi menjadi proses “kasar” penyalinan massal, melainkan menjadi proses “cerdas” yang selektif. Kita bergerak dari Bulk Data Movement menuju Smart Data Caching.

Kesimpulan

Revolusi “Zero-Copy” yang dibawa oleh SAP Datasphere adalah lompatan besar dalam efisiensi manajemen data. Ia membebaskan perusahaan dari belenggu silo data dan duplikasi yang tidak perlu. Namun, menganggap bahwa replikasi data telah punah adalah kekeliruan strategis.

Kunci keberhasilan implementasi analitik modern terletak pada keseimbangan. Bisnis harus mampu memilah mana data yang harus tetap berada di sumbernya, dan mana data yang perlu direplikasi demi kinerja dan stabilitas. Pendekatan hybrid inilah yang akan membedakan organisasi yang lincah (agile) dengan organisasi yang hanya terjebak dalam jargon teknologi.

Transformasi arsitektur data dari model tradisional ke modern data fabric bukanlah perjalanan yang sederhana. Dibutuhkan pemahaman mendalam tentang teknis SAP dan visi bisnis yang jelas. Jangan biarkan kompleksitas data menghambat pertumbuhan perusahaan Anda.

Jika Anda siap memodernisasi strategi data Anda dan membutuhkan mitra berpengalaman untuk menavigasi ekosistem SAP Datasphere, hubungi tim ahli diĀ SOLTIUS sekarang juga. Kami siap membantu Anda mengubah data menjadi aset bisnis yang paling berharga.

Recommended For You

Tinggalkan Balasan